PRINSIP (entropi) merupakan satuan yang digunakan untuk mengukur jika

PRINSIP
DAN POLA SISTEM THINKING

 

A. Prinsip Sistem Thinking

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Menurut Lawson dan
Martin, prinsip merupakan aturan umum dari tingkah laku atau kebiasaan. Prinsip
juga diartikan sebagai generalisasi dasar yang dapat diterima dan dapat
digunakan sebagai penalaran dasar atau tingkah laku. System thinking atau
pemikiran sistem merupakan suatu cara berpikir untuk dapat memahami berbagai
macam sistem yang menghubungkan antar elemen yang membentuk perilaku sistem.
Sistem thinking juga berkaitan dengan pemahaman serta intervensi dalam situasi
masalah berdasarkan prinsip dan konsep paradigma sistem. Dengan demikian,
prinsip sistem dapat digunakan sebagai dasar untuk penalaran mengenai pemikiran
sistem (system thinking) atau tingkah laku yang terkait (pendekatan sistem).

Beberapa dari
prinsip-prinsip sistem ialah sebagai berikut :

– Abstraction (abstraksi) merupakan suatu proses
untuk menyelesaikan suatu masalah atau dapat mempermudah masalah dengan cara
menetapkan karateristik dasar dan menghilangkan suatu karakteristik sistem.

– Boundary (batasan) merupakan batasan yang
memisahkan sistem dari dunia luar agar bisa fokus terhadap suatu sistem ketika
adanya perubahan sistem eksternal.

– Change (perubahan) yaitu sesuatu yang diperlukan
untuk dapat tumbuh dan berkembang dan perubahan harus diterima dan tidak boleh
untuk diabaikan, dihindari, maupun dilarang.

– Dualism (dualisme) ialah mengakui adanya dua
karakter dalam suatu sistem yang saling berkontradiksi tetapi bisa seimbang
dalam keseluruhan konteks yang besar.

– Encapsulation (enkapsulasi) berarti menyembunyikan
bagian dari sistem beserta interaksinya dari lingkungan internal.

– Entropy (entropi) merupakan satuan yang digunakan
untuk mengukur jika terdapat kelainan dalam suatu sistem.

– Equifinality (ekuifinalitas) merupakan suatu cara
alternatif untuk bisa mencapai tujuan yang sama.

– Goal Seeking (pencarian tujuan) artinya suatu
interaksi sistem harus memiliki tujuan yang sama.

– Hierarchy (hierarki) merupakan sub-sub sistem yang
dibuat menjadi suatu sistem yang lebih kompleks.

– Holism (holisme) artinya suatu sistem seharusnya
dipandang secara menyeluruh bukan hanya dipandang sebagian.

– Input dan Output (masukan dan keluaran) artinya di
dalam sistem tertutup, input ditentukan hanya sekali dan konstan, sedangkan
pada sistem terbuka terdapat input lain yang menjadi tambahan yang berasal dari
lingkungan.

– Interaction (interaksi) berarti sifat, kemampuan,
dan perilaku suatu sistem merupakan bagian dari interaksi yang saling berkaitan
dengan sistem lainnya.

– Layer hierarchy (lapisan hierarki) artinya evolusi
sistem kompleks difasilitasi oleh struktur hirarkis dan pemahaman sistem
kompleks difasilitasi oleh deskripsi hirarkis.

– Leverage (pengungkit) artinya sistem dapat dicapai
dengan solusi (kekuatan) untuk masalah yang sempit atau solusi sebagian untuk
masalah yang luas.

– Modularity (modularitas) artinya bagian sistem
yang tidak sesuai harus dipisahkan sedangkan bagian yang sesuai harus
digabungkan atau dikelompokkan.

– Multifinality artinya suatu sistem dalam mencapai
tujuan alternatif melalui input yang sama.

– Network (jaringan) merupakan topologi dasar untuk
sistem yang membentuk dasar interaksi dinamis sehingga menghasilkan perilaku
sistem yang kompleks.

– Parsimony (penghematan) artinya harus memilih
penjelasan yang paling sederhana dari suatu kejadian baik dalam desain,
operasi, maupun persyaratan.

– Regularity (regulasi) merupakan suatu metode agar
sistem dapat bekerja sesuai dengan yang sudah diinginkan.

– Relations (relasi) artinya setiap bagian-bagian
dari sistem harus saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

– Separation of Concerns (pemisahan masalah) berarti
masalah-masalah yang besar harus dipecah menjadi masalah-masalah yang lebih
kecil agar lebih efektif.

– Similiarity (persamaan) artinya harus menghindari
adanya perlakuan yang sama.

– Stability (keseimbangan) artinya sistem harus
dapat memberi panduan terhadap perilaku di saat lingkungan telah berubah.

– Synthesis (sintesis) artinya sistem harus
dirancang untuk digabungkan untuk menciptakan sifat yang diperlukan.

– View (pandangan) artinya sistem harus dipandang
secara menyeluruh agar dapat memahami situasi yang kompleks.

 

 

Prinsip
dari pemikiran sistem (system thinking) ialah sebagai berikut ;

1. Struktur
sistem merupakan sebuah umpan balik yang menyebabkan output dapat mempengaruhi
input yang sama.

2. Sistem
sebagai penguat atau penyeimbang.

3. Perilaku
sistem merupakan hasil dari umpan balik sistem.

4. Perilaku
yang penting merupakan umpan balik yang utama.

5. Perilaku
sistem yang kompleks tidak dapat dipahami tanpa memodelkan umpan balik sistem.

Dalam
praktiknya, pemikiran sistem (system thinking) berdasar pada 3 prinsip, yaitu
sebagai berikut :

1. Terkadang
beberapa cara dalam berpikir lebih kuat dibanding dengan yang lain dalam
menciptakan hasil yang diinginkan.

2. Struktur
sistem mempengaruhi hasil atau kinerja.

3. Diri
kita merupakan bagian penting dalamstruktur.

Penerapan prinsip
pemikiran sistem (system thinking) pada manajemen dan kepemimpinan yaitu :

* Sistem diartikan dalam tingkat yang
berbeda tetapi berdampingan satu dengan yang lain dalam operasi, misalnya
sistem keuangan, sistem pengambilan keputusan, sistem akuntabilitas.

* Organisasi sebagai entitas dapat
mengalami kegagalan jika keseluruhan sistem tidak saling bekerja sama seperti
kerja sama yang buruk, kurangnya pertanggungjawaban, dsb.

* Kesuksesan sistem harus berada di atas
tingkat sistem individual dan kepemimpinan agar tetap fokus pada apa yang
ditetapkan.

 

B. Pola Sistem Thinking

Mengetahui serta
memahami pola berpikir dapat mengungkapkan permasalahan secara menyeluruh
sehingga dapat mengembangkan solusi yang akan mengubah sistem secara efektif.
Pola pikir sistem memiliki berbagai macam jenis, antara lain :

– Pola Pikir Sektoral

Pola
pikir sektoral merupakan pola pikir yang menganalisis dan menyelesaikan suatu
masalah dengan cara pembidangan atau sesuai dengan sektor masing-masing.
Kemungkinan terjadinya kegagalan jika menggunakan pola pikir ini cukup besar
karena pola pikir sektoral tidak mempertimbangkan faktor-faktor lain secara
menyeluruh.

Contoh : Seseorang yang memiliki ilmu mekanik
membuat sebuah mesin pertanian, namum tidak memikiran dan mempetimbangkan
bagaimana petani akan menggunakan alat tersebut.

– Pola Pikir Temporal

Pola
pikir temporal merupakan pola pikir yang hanya dilakukan dalam suatu waktu
tertentu mulai dari menganalisis suatu masalah, mengambil kesimpulan,
memberikan rekomendasi solusi, hingga melakukan implementasi atau penerapan.
Pola pikir ini tidak memikirkan dampak yang terjadi di masa yang akan datang.

Contoh : Seorang nelayan yang
menggunakan pukat harimau untuk mendapatkan ikan yang lebih banyak. Namun,
tidak memikirkan bahwa penggunaan pukat harimau dapat menyebabkan kehancuran
ekosistem laut yaitu rusaknya terumbu karang yangmenjadi habitat para ikan dan
juga tidak dapat berkembang biaknya ikan sebab ikan kecil pun ikut juga
terjaring pukat harimau.

– Pola Pikir Pragmatis

Pola
pikir pragmatis merupakan pola pikir yang hanya memikirkan kejadian saat itu
untuk menyelesaikan suatu masalah. Kelemahan dari pola pikir ini ialah tidak
dapat menyelesaikan masalah yang kompleks. Pola pikir ini hanya dapat digunakan
jika berada dalam situasi krisis.

Contoh
:

1. Penuntutan
gaji karyawan suatu perusahaan

2. Keluarga
korban kecelakaan memutuskan untuk melakukan operasi secepat mungkin agar nyawa
korban tertolong.

– Pola Pikir Insidential

Pola pikir insidential merupakan
pola pikir yang menyelesaikan permasalahan hanya pada saat kejadian tertentu
saja.

Contoh : Seorang manajer di sebuah perusahaan
memutuskan untuk meningkatkan promosi penjualan ketika perusahaan mengalami
penurunan penjualan tanpa melihat kejadian sebelumnya yang mungkin saja bukan
karena kurangnya promosi.

– Pola Pikir Tekstual

Pola
pikir tekstual merupakan pola pikir yang menyelesaikan masalah dengan
menekankan pada apa yang sudah tertulis atas permasalahan yang terkait. Pola
pikir ini hanya terfokus pada teks yang ada dan tidak berpikir secara logika
sehingga tidak bisa mengambil kebijakan yang tidak sesuai dengan peraturan yang
ada.

Contoh : Seorang hakim memutuskan
untuk memenjarakan seseorang yang mencuri singkong untuk dimakan karena sudah
merupakan peraturan bahwa setiap pencuri akan diberikan hukuman.

– Pola Pikir Kontekstual

Pola
pikir konstekstual merupakan kebalikan dari pola pikir tekstual yang melihat
suatu permasalahan dengan latar belakang terjadinya masalah tersebut dan
melihat keterikatan permasalahan dengan masalah yang lain.

Contoh
: Seperti dalam bidang keagamaan yang berusaha untuk menemukan makna dibalik
apa yang tersurat dengan cara mengaitkan faktor-faktor terkait seperti sejarah,
kondisi zamaan dahulu, serta kondisi zaman sekarang.

– Pola Pikir Parsial

Pola
pikir parsialm merupakan proses berpikir yang menyederhanakan masalah besar
menjadi masalah yang lebih kecil.

Contoh
: Prose pembuatan motor yang memiliki 3 komponen besar yaitu rangka,
kelistrikan, dan mesin. Masing-masing komponen tersebut dibagi menjadi 3 bidang
pekerjaan untuk dapat menyelesaikan pembuatan motor.

– Pola Pikir Integralistik

Pola
pikir integralistik merupakan kebalikan dari pola pikir parsial. Pola pikir
integralistik mengaitkan setiap permasalahan agar mendapatkan kaitan yang logis
dan realistis sehingga semakin bagus dalam penyelesaian suatu masalah.
Menggunakan pola pikir integralistik diperlukan skala prioritas karena
terkadang sulit dilakukan sebab banyaknya faktor yang harus di analisis.

Contoh
: Permasalahan pembagian harta warisan yang harus mengaitkan berbagai faktor
yang ada seperti keluarga, agama, keadilan, serta adat-istiadat.

Berikut ini merupakan 8
pola dasar sistem yang terdapat dalam sistem thinking, yaitu :

1. Memperbaiki
yang gagal (fixes that fail)

2. Pemindahan
beban (shifting the burden)

3. Sasaran
yang berubah (drifting goal)

4. Peningkatan
dalam persaingan (escalation)

5. Pertumbuhan
yang terbatas (limit to success/growth)

6. Pertumbuhan
di bawah investasi (growth and under investment)

7. Kesulitan
bersama (tragedy of commons)

8. Sukses
bagi yang sukses (success to the successful)

Pola sistem thinking
merupakan pola kombinasi dari berbagai pola yang sudah ada, pola-pola tersebut
ialah sebagai berikut :

– Contextual Helicopter View Thinking

Contextual
helicopter view thinking merupakan gabungan daru dynamic thinking, systems-as-cause
thinking, dan forest thinking. Pola ini merupakan suatu cara berpikir yang
memikirkan suatu permasalahan menjadi suatu sistem yang dinamis. Dinamis dalam
pola ini artinya pola ini tidak terpaku pada kejadian saat ini saja, namun juga
memahami apa yang terjadi yang sebelumnya.

– Process Interconnection Thinking

Process interconnection thinking merupakan gabungan
dari operational thinking dan closed-loop thinking. Pola ini merupakan suatu
suatu cara berpikir yang mengorientasikan akar dari suatu permasalahan. Pola
ini bertujuan agar melakukan analisa secara menyeluruh untuk mendapatkan akar
dari permasalahan.

– Quantitive Hypothetical Thinking

Quantitive
hypothetical thinking merupakan gabungan dari quantitive thinking dan
scientifitic thinking. Pola ini merupakan suatu cara berpikir yang menggunakan
hipotesis awal. Hipotesis ini untuk membantu penyelesaian masalah, namun
hipotesis ini dapat berubah dengan dinamis sesuai dengan tingkat pemahaman
terhadap masalah yang ada.